Sayur Yang Terlalu Asin, Kisah Cinta Ayah dan Ibuku

Sayur Yang Terlalu Asin, Kisah Cinta Ayah dan Ibuku

Kisah ini terjadi saat saya masih kecil. Ayah dan ibuku adalah keluarga biasa, seperti keluarga pada umumnya. Hidup kami sederhana, ayahku seorang pekerja kantoran, dan ibuku adalah ibu rumah tangga.

Setiap hari, ibu yang selalu menyiapkan makanan untuk kami, mulai dari sarapan hingga makan malam. Semua masakan itu dibuat sendiri oleh ibu. Sebagai anak, saya selalu menyukai apapun yang disajikan ibu, semua terasa enak. Ayah juga sering memuji masakan ibu.

Hingga pada suatu pagi, ibu menyajikan sup sayuran dan tempe goreng. Biasanya masakan ibu enak, tetapi pagi itu asin sekali, bahkan tempe goreng yang disajikan lebih cokelat ketimbang biasanya.

Dari kening ayah yang berkerut saat suapan pertama, saya tahu bahwa ayah juga merasa ada yang salah dengan masakan ibu. Saya menduga, pasti ayah protes dan tidak melanjutkan makan. Namun dugaan itu salah, ayah tetap memakan sup dan tempe goreng itu.

“Sayur buatan ibu keasinan ya?” tanya ibu saat bergabung di meja makan.

Ayahku tersenyum dan menjawab, “Sedikit asin, tapi tidak apa-apa, ayah tetap suka dan masakan ibu tetap enak,”

Saya agak heran, kenapa ayah tidak protes.

Saat ayah mengantarku, saya bertanya kenapa ayah mengatakan bahwa masakan ibu tetap enak, padahal rasanya tidak karuan.

Ayah tersenyum dan mengatakan, “Ayah tahu masakan ibu keasinan dan tidak seenak biasanya. Tapi itu pasti karena dia lelah dan capek mengurus rumah sendirian. Ibu tidak akan senagaja membuat masakannya tidak enak. Lagipula sayur yang keasinan tidak akan membuat kita sakit, jadi tidak perlu membesar-besarkan hal yang tidak perlu,”

Saya tersenyum dan hari ini menjadi pelajaran besar. Ketika usia saya sudah dewasa, saya mengerti apa yang dimaksud ayah. Seringkali saya melihat pasangan bertengkar hanya karena hal kecil. Bukankah dalam cinta diperlukan adanya toleransi dan saling menerima.

BACA JUGA  Trees For Cars, Aplikasi Smartphone Buah Karya Mantan Gelandangan

Hubungan cinta dan rumah tangga yang langgeng hanya ada bila dua pihak saling mengerti dan tidak meributkan hal-hal kecil. Saat pria dan wanita mau belajar dan menerima apa adanya, maka hubungan akan berjalan mulus.

Semoga kisah ini bisa jadi inspirasi untuk Anda.

 

source

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.